Langsung ke konten utama

Di Balik Pelangi

Oleh : Rahmat Achdar

Bianglala atau acap kali kita sebut sebagai pelangi adalah sebuah ilusi optik semata yang berupa lengkungan spektrum warna di langit yang nampak akibat dari pembiasan sinar matahari dan titik-titik hujan atau embun. Berdesarkan pendekatan melalui "Ilmu Alam", pelangi terdiri dari 7 warna yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu.

Sedangkan menurut orang terdahulu, konon katanya pelangi merupakan warna selendang 7 bidadari yang terbentang dari surga ke bumi. Selendang tersebut terbentang karena sejumlah bidadari cantik dari kayangan ini akan turun ke bumi untuk melaksanakan salah satu ritual yakni "Mandi di Sungai".

Tapi sebagai mahluk yang berpikir, pernahkah anda menemukan titik bahwasanya di balik keindahan pelangi tersirat sebuah makna untuk kehidupan yang transendental?

Sejatinya, pelangi mengajarkan kita untuk selalu pada koridor kearifan dalam menghadapi sebuah niscaya dari Tuhan, yakni perbedaan. Sebab dari perbedaan pendapat, pemikiran yang berhasil dikombinasikan maka akan menghasilkan keindahan bagaikan pelangi setelah turunnya hujan. Juga merupakan sebuah proses pendewasaan diri, demi tercapainya keharmonisasian dalam berbangsa dan bernegara.

Bukankah pelangi tidak akan nampak indah jika hanya satu warna saja? Kira-kira sejatinya kehidupan juga akan demikian. Jika manusia di dunia ini hanya hidup dalam satu pemikiran saja, maka hidup akan terasa kaku, monoton dan membuat kita jemu.

Sebab Tuhan menciptakan manusia dengan unik dan tidak ada yang sama persis, bahkan sekalipun kita adalah saudara kembar. Dalam hal pekerjaan pun demikian, persoalan mulianya sebuah pekerjaan bukan dari kecil atau besarnya pekerjaan tersebut, akan tetapi yang terpuji adalah bagaimana kita sanggup menyelesaikannya.

Mengutip perkataan bijak dari seorang bijak pula yang bernama Kull Ahmad Agha, bahwa "Segala sesuatu datang ke alam ini untuk sebuah pekerjaan dan mempunyai kedudukan khusus. Jadi, ketika anda menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, maka anda telah melakulan kesalahan".

Wallahu A'lam Bisshawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Tahun IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar

Oleh: Rahmat Achdar “Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang  Sekar Indurasmi  sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El. Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang  Jazuli Imam  dan kemudian diberi judul  Pejalan Anarki . Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita. Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan. Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita. Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepu...

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....