Oleh: Rahmat Achdar
“Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang Sekar Indurasmi sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El.
Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang Jazuli Imam dan kemudian diberi judul Pejalan Anarki. Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita.
Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan.
Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita.
Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepulangan yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar itu sendiri.
Sebuah lembaga yang berbentuk Persuasif Parlementer dan berasaskan Kekeluargaan ini mampu memberi dan menabur benih-benih cinta akan terhadap sesama putra dan putri daerah Latemmamala Soppeng.
Sebagai kader yang militan, kita harus percaya pada kekuatan diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kekuatan terbesar dalam kehidupan yang transendental ini. Bak El dalam kisah tadi, cara mengimplementasikan cinta itu ialah dengan terus mengabdi untuk lembaga di usia senjanya kini. Sebab sebuah pengabdian seorang kader terhadap lembaga akan membawa kebahagiaan terhadap banyak orang, dan tentu membahagiakan banyak orang termasuk jalan utama untuk menjemput kebahagiaan diri sendiri.
Tepat pada hari ini 10 Oktober 2020, IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar telah menapaki perjalanan panjang selama 22 tahun.
Dewasa ini kemudian mampu menjelaskan bahwa “beda masa, beda dinamika.” Dinamika yang hadir kemudian adalah sebuah jenjang transformasi spiritual dan merupakan proses pendewasaan diri. Sebab sejatinya dalam sebuah lembaga pasti dihuni oleh tiap-tiap perbedaan, namun perbedaan inilah yang akan menjadikan kita indah bak pelangi setelah turunnya hujan.
Meminjam sebuah metafor yang mengatakan bawha “pelaut ulung tidak lahir dari ombak yang tenang”, kepribadian yang tangguh tidak dilahirkan dari tempaan yang biasa-biasa saja. Begitu pun juga di usianya yang sudah terbilang senja, IMPS UIN Alauddin Makassar telah menjulang tinggi bak pohon. Namun disadari pula, semakin tinggi pohon maka semakin besar pula angin menerpa.
Maka dari itu semoga di usia yang ke 22 tahun ini, IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar selalu tetap berkibar di langit yang biru dan tetap pula eksis di tataran lembaga kedaerahan, serta mampu melahirkan kader-kader yang berguna untuk bangsa dan negara.
Di manapun kau berada dan dalam kondisi apapun itu, tetap terpatri dalam jiwa sanubari “Belajar, Berjuang, Bertaqwa.”

Komentar
Posting Komentar