Langsung ke konten utama

22 Tahun IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar



Oleh: Rahmat Achdar


“Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang Sekar Indurasmi sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El.


Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang Jazuli Imam dan kemudian diberi judul Pejalan Anarki. Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita.


Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan.


Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita.


Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepulangan yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar itu sendiri.


Sebuah lembaga yang berbentuk Persuasif Parlementer dan berasaskan Kekeluargaan ini mampu memberi dan menabur benih-benih cinta akan terhadap sesama putra dan putri daerah Latemmamala Soppeng.


Sebagai kader yang militan, kita harus percaya pada kekuatan diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kekuatan terbesar dalam kehidupan yang transendental ini. Bak El dalam kisah tadi, cara mengimplementasikan cinta itu ialah dengan terus mengabdi untuk lembaga di usia senjanya kini. Sebab sebuah pengabdian seorang kader terhadap lembaga akan membawa kebahagiaan terhadap banyak orang, dan tentu membahagiakan banyak orang termasuk jalan utama untuk menjemput kebahagiaan diri sendiri.


Tepat pada hari ini 10 Oktober 2020, IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar telah menapaki perjalanan panjang selama 22 tahun.


Dewasa ini kemudian mampu menjelaskan bahwa “beda masa, beda dinamika.” Dinamika yang hadir kemudian adalah sebuah jenjang transformasi spiritual dan merupakan proses pendewasaan diri. Sebab sejatinya dalam sebuah lembaga pasti dihuni oleh tiap-tiap perbedaan, namun perbedaan inilah yang akan menjadikan kita indah bak pelangi setelah turunnya hujan.


Meminjam sebuah metafor yang mengatakan bawha “pelaut ulung tidak lahir dari ombak yang tenang”, kepribadian yang tangguh tidak dilahirkan dari tempaan yang biasa-biasa saja. Begitu pun juga di usianya yang sudah terbilang senja, IMPS UIN Alauddin Makassar telah menjulang tinggi bak pohon. Namun disadari pula, semakin tinggi pohon maka semakin besar pula angin menerpa.


Maka dari itu semoga di usia yang ke 22 tahun ini, IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar selalu tetap berkibar di langit yang biru dan tetap pula eksis di tataran lembaga kedaerahan, serta mampu melahirkan kader-kader yang berguna untuk bangsa dan negara.


Di manapun kau berada dan dalam kondisi apapun itu, tetap terpatri dalam jiwa sanubari “Belajar, Berjuang, Bertaqwa.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....

Di Balik Pelangi

Oleh : Rahmat Achdar Bianglala atau acap kali kita sebut sebagai pelangi adalah sebuah ilusi optik semata yang berupa lengkungan spektrum warna di langit yang nampak akibat dari pembiasan sinar matahari dan titik-titik hujan atau embun. Berdesarkan pendekatan melalui "Ilmu Alam", pelangi terdiri dari 7 warna yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Sedangkan menurut orang terdahulu, konon katanya pelangi merupakan warna selendang 7 bidadari yang terbentang dari surga ke bumi. Selendang tersebut terbentang karena sejumlah bidadari cantik dari kayangan ini akan turun ke bumi untuk melaksanakan salah satu ritual yakni "Mandi di Sungai" . Tapi sebagai mahluk yang berpikir, pernahkah anda menemukan titik bahwasanya di balik keindahan pelangi tersirat sebuah makna untuk kehidupan yang transendental? Sejatinya, pelangi mengajarkan kita untuk selalu pada koridor kearifan dalam menghadapi sebuah niscaya dari Tuhan, yakni perbedaan. Sebab ...