Langsung ke konten utama

Postingan

22 Tahun IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar

Oleh: Rahmat Achdar “Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang  Sekar Indurasmi  sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El. Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang  Jazuli Imam  dan kemudian diberi judul  Pejalan Anarki . Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita. Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan. Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita. Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepu...
Postingan terbaru

Panta Rhei Kai Uden Menei dan Harapan Kehidupan Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Rahmat Achdar Panta Rhei Kai Uden Menei  (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap),  adalah sebuah dogma tersuci yang diungkapkan oleh seorang ahli Filsafat Kuno yang dikenal dengan sifat sombong dan tinggi hatinya, ia adalah seorang yang bernama Herakleitos. Pria kelahiran Efesus itu mencoba mendobrak kemapanan dan memberikan sebuah pemikiran baru dalam dunia filsafat. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun di alam semesta ini yang bersifat tetap atau abadi, termasuk alam semesta. Sosok Herakleitos memang seakan menjadi pembeda, selain dirinya berani untuk tidak masuk ke dalam mazhab apa pun, ia juga seringkali mengkritisi filsuf lain yang lebih dulu terkenal daripada dirinya. Yang menjadi sebuah bukti bahwa Herakleitos adalah sosok yang teguh, ia mempunyai ajaran yang disebut sebagai  Logos . Logos  sendiri dipahami sebagai sesuatu yang bersifat material, namun sekaligus melampaui materi yang bersifat biasa. Menurutnya, se...

Telaah Persepsi Islam dalam Menjemput Kebahagiaan yang Hakiki

Oleh: Rahmat Achdar Di setiap sisi kehidupan manusia, tentunya kita pasti mendambakan kehidupan yang bahagia, baik itu secara  Lahiriah  maupun secara  Batiniah.  Itulah sebabnya mengapa kita selalu senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah SWT sesuai dengan Firman-Nya: وَمِنْهُمْ   مَّنْ   يَّقُوْلُ   رَبَّنَاۤ   اٰتِنَا   فِى   الدُّنْيَا   حَسَنَةً   وَّفِى   الْاٰ   خِرَةِ   حَسَنَةً   وَّ   قِنَا   عَذَا   بَ   النَّا   رِ "Dan di antara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."  (QS. 2:201) Ayat tersebut melegitimasikan bahwa setiap manusia memang selalu menghajatkan kehidupan yang bahagia. Hanya kemudian persoalannya adalah, seringkali terjadi kesalahan persepsi terhadap makna kebahagiaan yang hakiki. Sebagian besar mengatakan bahwa kebahagiaan itu ditandai denga...

Senandung KKN

Oleh: Rahmat Achdar Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan pemilik semesta yang telah menciptakan secuil mahluk yang berkelana dan menapaki sudut-sudut ruang keindahan. Melalui rasa kesyukuran atas karunia dan maghfirah Tuhan yang telah mempertemukan kita dengan alam yang asri nan elok, penduduk yang ramah serta momentum yang melampaui batas kehangatan dan kebersahajaan. Detik-detik terakhir KKN kita di Kecamatan Rilau Ale menyisahkan luka dan pilu, seketika proses menjadi haru dan telah berubah menjadi kisah klasik di lembah yang penuh ceritera indah ini. Terima kasih UIN Alauddin Makassar, terima kasih Pemerintah Kabupaten Bulukumba, terima kasih Pemerintah Kecamatan Rilau Ale dan terima kasih Bapak Lurah Palampang beserta keluarga atas kesediaannya memberikan kami ruang untuk mengimplementasikan pengabdian dalam bentuk kuliah Batiniah dan rekreasi Lahiriah . Juga teruntuk, semua pihak yang telah memberi dan menerima luka, dari ujung rambut sampai ujung kuku ...

Taman Para Pecinta

Oleh:Rahmat Achdar Pernah ketika, di zaman Yunani Kuno terjadi sebuah percakapan oleh kedua Filsuf yang dikenal sangat berpengaruh dan mempunyai kontribusi besar dalam peradaban dunia, yakni Socrates dan Plato. Meskipun hubungan mereka hanyalah sebatas guru dan murid, namun keduanya memiliki kedekatan emosional yang cukup baik hingga keduanya terlihat sebagai saudara sedarah. Socrates adalah guru dari Palto, dan tentu saja Plato adalah murid yang baik dari Socrates. Dalam percakapan tersebut, Plato melangsungkan sebuah pertanyaan kepada gurunya “wahai guru, apa itu cinta?” Namun pada saat itu sang guru tidak memberikan jawaban apapun, melainkan ia hanya menginstruksikan kepada muridnya untuk melalukan perjalanan di sebuah perkebunan gandum yang cukup luas. Socrates kemudian memberikan aba-aba kepada Plato, “wahai Plato, jika kau hendak mengetahui apa itu cinta, maka silahkan kau berjalan menyusuri perkebunan gandum itu. Lalu kemudian kau cari dan ambil ranting yang m...

Surat Usang untuk Pak Rektor

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Salam hangat untuk Bapak Rektor, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bapak Rektor, saya adalah salah seorang dari putra daerah yang letaknya tidak jauh dari daerah Bapak dilahirkan. Kini saya menimba ilmu di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar yang notabenenya adalah Universitas yang tengah dimotori oleh Bapak. Jika boleh bertutur Pak, sejumput haru disertai perasaan bangga dalam diri ketika saya berhasil mencatatkan nama dan bisa lulus di UIN Alauddin Makassar yang saat itu masih dinahkodai oleh Ayahanda Prof. Musafir Pababbari . Saya bangga membawakan nama almamater tersebut, saya bangga bisa lulus di Kampus Peradaban , dan tanpa ragu-ragu saya sering kali mengepalkan tapak langkah di mata banyak orang ketika saya tengah berada di kampus-kampus lain. Sekali lagi saya tekankan, saya bangga dengan almamater berwarna hijau ini (meskipun terkadang w...

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....