Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Surat Usang untuk Pak Rektor

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Salam hangat untuk Bapak Rektor, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bapak Rektor, saya adalah salah seorang dari putra daerah yang letaknya tidak jauh dari daerah Bapak dilahirkan. Kini saya menimba ilmu di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar yang notabenenya adalah Universitas yang tengah dimotori oleh Bapak. Jika boleh bertutur Pak, sejumput haru disertai perasaan bangga dalam diri ketika saya berhasil mencatatkan nama dan bisa lulus di UIN Alauddin Makassar yang saat itu masih dinahkodai oleh Ayahanda Prof. Musafir Pababbari . Saya bangga membawakan nama almamater tersebut, saya bangga bisa lulus di Kampus Peradaban , dan tanpa ragu-ragu saya sering kali mengepalkan tapak langkah di mata banyak orang ketika saya tengah berada di kampus-kampus lain. Sekali lagi saya tekankan, saya bangga dengan almamater berwarna hijau ini (meskipun terkadang w...

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....

Idul Adha, Berkurban dan Esensinya

Oleh : Rahmat Achdar "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai Kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj 22: Ayat 37) Berdasarkan hitungan kalender Hijriah, Hari Raya Idul Adha kali ini jatuh pada tanggal 10 Dulhijjah 1440 H. Atau dalam hitungan kalender Masehi, jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019. Semarak di berbagai pelosok dan penjuru dunia yang terdengar gema lantunan suara Takbir yang saling bersahutan oleh umat muslim, dan juga maraknya pamflet-pamflet di media sosial yang bertebaran sebagai bentuk permohonan maaf yang mewakili keluarga, lembaga ataupun sebagainya. Atau juga bahkan ada yang sampai iseng meng- update status dengan menggunakan kalimat "kalian semua saya maafkan", semua itu adalah pertanda bahwa hari kemenangan telah tiba. Idul Adha merupakan hari yang sangat istimewa dalam syariat Islam, sebab terdapat dua hal utama yang dilaksanakan secara serentak pa...

Di Balik Pelangi

Oleh : Rahmat Achdar Bianglala atau acap kali kita sebut sebagai pelangi adalah sebuah ilusi optik semata yang berupa lengkungan spektrum warna di langit yang nampak akibat dari pembiasan sinar matahari dan titik-titik hujan atau embun. Berdesarkan pendekatan melalui "Ilmu Alam", pelangi terdiri dari 7 warna yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Sedangkan menurut orang terdahulu, konon katanya pelangi merupakan warna selendang 7 bidadari yang terbentang dari surga ke bumi. Selendang tersebut terbentang karena sejumlah bidadari cantik dari kayangan ini akan turun ke bumi untuk melaksanakan salah satu ritual yakni "Mandi di Sungai" . Tapi sebagai mahluk yang berpikir, pernahkah anda menemukan titik bahwasanya di balik keindahan pelangi tersirat sebuah makna untuk kehidupan yang transendental? Sejatinya, pelangi mengajarkan kita untuk selalu pada koridor kearifan dalam menghadapi sebuah niscaya dari Tuhan, yakni perbedaan. Sebab ...

Falsafah Manusia

Oleh : Rahmat Achdar Manusia adalah mahluk hidup paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai Khalifah di muka bumi ini, manusia adalah musafir dengan pelita tawasul dan ibadah, masing-masing mempunyai jalan yang berbeda untuk menggapai permata kebahagiaan dalam hidupnya. Al-Qur'an menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah seperti Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah. Proses penciptaan manusia menurut hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud, Nabi pernah mengatakan bahwa "Tatkala dahulu, jatuhlah zat air kejadian, bercampur dari sulbi ayah dengan taraib dari ibunda. Empat puluh hari pertama bernama nutfah, artinya air segumpal. Empat puluh hari sesudahnya bernama alaqah yang artinya darah segumpal. Empat puluh hari kemudian mudhgah, artinya daging segumpal. ...