Langsung ke konten utama

Idul Adha, Berkurban dan Esensinya

Oleh : Rahmat Achdar
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai Kepada-Nya adalah ketakwaan kamu."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 37)


Berdasarkan hitungan kalender Hijriah, Hari Raya Idul Adha kali ini jatuh pada tanggal 10 Dulhijjah 1440 H. Atau dalam hitungan kalender Masehi, jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019. Semarak di berbagai pelosok dan penjuru dunia yang terdengar gema lantunan suara Takbir yang saling bersahutan oleh umat muslim, dan juga maraknya pamflet-pamflet di media sosial yang bertebaran sebagai bentuk permohonan maaf yang mewakili keluarga, lembaga ataupun sebagainya. Atau juga bahkan ada yang sampai iseng meng-update status dengan menggunakan kalimat "kalian semua saya maafkan", semua itu adalah pertanda bahwa hari kemenangan telah tiba.


Idul Adha merupakan hari yang sangat istimewa dalam syariat Islam, sebab terdapat dua hal utama yang dilaksanakan secara serentak pada momentum kali ini. Yang pertama adalah dilaksanakannya ibadah haji di Mekkah, sebagaimana yang ditegaskan pada Rukun Islam yang kelima. Dan yang kedua adalah dilaksanakannya ibadah qurban yang secara arti sempit yakni menyembelih binatang ternak yang sudah cukup umur (sapi, kambing dan lain-lain) setelah shalat Ied sampai tergelincir matahari pada hari terakhir Tasyrik.


Namun berbeda dengan anak perantau, salah satu wujud dari konstruksi sosial yang telah menjadi budaya dan telah menjalar sampai hari ini, ketika hari raya tiba, maka pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga tercinta adalah momentum yang tentunya memang selalu dinanti-nantikan. Sebab betapa bahagianya seseorang yang hari ini masih sempat berkumpul dan saling bertukar maaf bersama orang tua dan keluarga, yang saya pikir hal ini nilainya tidak dapat ditukar dengan rupiah.


Namun beda lagi dengan cerita saya pada momentum Idul Adha kali ini, dengan polemik hidup yang transendental dan juga diwarnai dengan beberapa tugas kuliah yang sudah menjadi tuntutan setiap mahasiswa untuk melaksanakan praktik sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan oleh pihak birokrasi, sehingga mengharuskan saya untuk lebaran di kampung halaman teman, yang notabenenya adalah teman lama ketika berada di pondok pesantren kemarin, yang letaknya tidak jauh dari Kota Bulukumba. Yakni di Lapangan Sepak Bola Desa Padang Loang, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba.


Sejumput haru, namun juga sedikit bercampur dengan rasa bahagia yang mewarnai Idul Adha tahun ini ketika melihat teman-teman yang secara langsung bisa berjabat tangan dengan orang tua dan karib baid terdekatnya. Kesaksian ku atas kejadian tersebut seakan hendak membawaku terbang dalam sekejap, sebagaimana peristiwa yang dialami oleh Baginda Rasulullah SAW ketika hendak menerima wahyu atau perintah shalat dari Allah SWT, sehingga beliau bisa sampai ke "Sidratul Muntaha" (langit ketujuh) dalam waktu sekejap.


Namun lepas dari hal tersebut, rasa syukur senantiasa terpanjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat-Nya sehingga saya masih sempat menikmati sucinya Idul Adha kali ini, dan kepada do'a yang tidak lagi berujung pada usai, semoga keluarga dan orang-orang terdekatku di sana selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan senantiasa berada dalam Lindungan-Nya.


Sesuai yang dijelaskan di atas tadi bahwa, disyariatkannya ibadah qurban ini sebenarnya berangkat dari Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS:37 ayat 99-113. Kisah ini berawal dari Nabi Ibrahim a.s yang telah lama menikah dengan Sitti Hajar namun belum juga dikaruniai seorang anak, akan tetapi Nabi Ibrahim terus berusaha dan berdo'a kepada Allah SWT. Lambat laun ternyata usahanya membuahkan hasil, hingga akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki tampan dan anak itu adalah Nabi Ismail a.s, yang menurut sejarahnya Nabi Ismail lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun.


Namun, kebahagiaan keluarga kecil tersebutu tidaklah berlangsung lama. Tiba-tiba, datanglah sesuatu yang mengagetkan dalam mimpi Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya itu.


Pada awalnya, beliau tidak pernah yakin dalam mimpinha itu. Namun, saat mimpi tersebut datang untuk ketiga kalinya, seketika dia begitu yakin bahwasanya mimpi itu datangnya dari Allah SWT. Kemudian Nabi Ibrahim isi mimpinya tersebut kepada anak semata wayangnya itu, sebagaimana diabadikan dalam QS:37 ayat 102. “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu." Kemudian selanjutnya, di ayat yang sama Nabi Ismail menjawab “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”


Sungguh luar biasa jawaban yang diberikan oleh Nabi Ismail, demikian juga dengan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah dan berhasil membunuh "berhala" rasa cinta kepada anak satu-satunya yang telah ia tunggu selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Tak lupa juga hal yang luar biasa dilakukan oleh sosok Siti Hajar, seorang ibu yang ikhlas terhadap keputusan tersebut.


Singkat cerita, bapak dan anak tersebut menuju suatu tempat yang telah ditentukan. Lalu tatkala Nabi Ibrahim sudah membaringkan Ismail dan siap disembelih olehnya, maka seketika itu pula Allah SWT memanggil Nabi Ibrahim dan mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Sebagaimana yang dikisahkan dalam QS:37 ayat 104-109 yang berbunyi “lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”


Lantas, apa kisah yang dapat ditarik dari kisah pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Siti Hajar ketika menerima perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya tersebut?


Tentunya berupa keimanan yang lahir dari keyakinan yang kuat, kemudian keikhlasan dan juga sikap tawadhu (rendah hati) dalam menerima segala hal, yang tentunya segala sesuatu yang terjadi merupakan seknario kecil Tuhan yang diperuntukkan kepada seorang hamba.


Wallaahu A'lam Bisshawaab


Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H
Mohon Maaf Lahir Bathin
M.Nur Rahmat Achdar HT sekeluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Tahun IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar

Oleh: Rahmat Achdar “Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang  Sekar Indurasmi  sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El. Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang  Jazuli Imam  dan kemudian diberi judul  Pejalan Anarki . Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita. Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan. Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita. Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepu...

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....

Di Balik Pelangi

Oleh : Rahmat Achdar Bianglala atau acap kali kita sebut sebagai pelangi adalah sebuah ilusi optik semata yang berupa lengkungan spektrum warna di langit yang nampak akibat dari pembiasan sinar matahari dan titik-titik hujan atau embun. Berdesarkan pendekatan melalui "Ilmu Alam", pelangi terdiri dari 7 warna yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Sedangkan menurut orang terdahulu, konon katanya pelangi merupakan warna selendang 7 bidadari yang terbentang dari surga ke bumi. Selendang tersebut terbentang karena sejumlah bidadari cantik dari kayangan ini akan turun ke bumi untuk melaksanakan salah satu ritual yakni "Mandi di Sungai" . Tapi sebagai mahluk yang berpikir, pernahkah anda menemukan titik bahwasanya di balik keindahan pelangi tersirat sebuah makna untuk kehidupan yang transendental? Sejatinya, pelangi mengajarkan kita untuk selalu pada koridor kearifan dalam menghadapi sebuah niscaya dari Tuhan, yakni perbedaan. Sebab ...