Oleh: Rahmat Achdar
Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan pemilik semesta yang telah menciptakan secuil mahluk yang berkelana dan menapaki sudut-sudut ruang keindahan.
Melalui rasa kesyukuran atas karunia dan maghfirah Tuhan yang telah mempertemukan kita dengan alam yang asri nan elok, penduduk yang ramah serta momentum yang melampaui batas kehangatan dan kebersahajaan.
Detik-detik terakhir KKN kita di Kecamatan Rilau Ale menyisahkan luka dan pilu, seketika proses menjadi haru dan telah berubah menjadi kisah klasik di lembah yang penuh ceritera indah ini.
Terima kasih UIN Alauddin Makassar, terima kasih Pemerintah Kabupaten Bulukumba, terima kasih Pemerintah Kecamatan Rilau Ale dan terima kasih Bapak Lurah Palampang beserta keluarga atas kesediaannya memberikan kami ruang untuk mengimplementasikan pengabdian dalam bentuk kuliah Batiniah dan rekreasi Lahiriah.
Juga teruntuk, semua pihak yang telah memberi dan menerima luka, dari ujung rambut sampai ujung kuku kami mengucap maaf yang sedalam-dalamnya. Sebab sejatinya hakikat kesempurnaan seorang manusia, itu terletak pada pintu maaf dari manusia lainnya.
Meskipun pada dasarnya perjalanan ini tidaklah seusai dengan apa yang telah dijadwalkan sebelumnya, akan tetapi paripurna kebahagiaan itu tidaklah memiliki ujung letup atas dipertemukannya kami dengan alam yang damai dan para penduduk yang berseri.
Pepatah sederhana mengatakan bahwa “waktu yang mempertemukan kita, maka waktu pula yang akan memisahkan kita.” Olehnya kemudian tidaklah menjadi suatu alasan untuk stagnan dalam persoalan mencintai dan dicintai. Sebab jarak bukanlah persoalan, sebab sejatinya untuk menumbuhkembangkan rindu, maka ia memang membutuhkan jarak agar hangatnya terus meluap.
Seseorang pernah bertanya, apa bedanya antara aku menyukai bunga dan aku mencintai bunga?
Lalu dijawab oleh seorang Sufi yang arif nan bijaksana bahwa “tentulah ketika aku menyukai bunga, maka bunga itu akan ku petik segera. Akan tetapi apabila aku mencintai bunga, maka tentulah bunga itu akan ku jaga dan ku siraminya selalu.” Dan tentulah bagi orang-orang yang telah paham akan esensi dari cinta itu, maka ia tidak akan pernah hilang ditelan zaman dan juga pergantian musim.
Salam hangat dan salam cinta, marilah kita saling mengingat, saling merindu dan saling bertukar sapa di lain masa, sebab disadari itu semua merupakan tanggung jawab spiritualitas kita sebagai mahluk yang Ber-Tuhan dalam menjalani kehidupan yang transendental.
Terima kasih KKN, bahagiaku paripurna.

Komentar
Posting Komentar