Langsung ke konten utama

Telaah Persepsi Islam dalam Menjemput Kebahagiaan yang Hakiki

Oleh: Rahmat Achdar

Di setiap sisi kehidupan manusia, tentunya kita pasti mendambakan kehidupan yang bahagia, baik itu secara Lahiriah maupun secara Batiniah. Itulah sebabnya mengapa kita selalu senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah SWT sesuai dengan Firman-Nya:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

"Dan di antara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. 2:201)

Ayat tersebut melegitimasikan bahwa setiap manusia memang selalu menghajatkan kehidupan yang bahagia. Hanya kemudian persoalannya adalah, seringkali terjadi kesalahan persepsi terhadap makna kebahagiaan yang hakiki. Sebagian besar mengatakan bahwa kebahagiaan itu ditandai dengan banyaknya materi (harta kekayaan) yang dimiliki. Sedang ketika kita melirik peristiwa yang dialami oleh seorang Adolf Merckle sebagai orang terkaya dari Jerman kala itu, Adolf tidak akan menabrakkan dirinya sendiri ke kereta api hingga mengakibatkan dirinya meninggal dunia, jika seandainya kebahagiaan hanya diukur dari banyaknya materi yang kita miliki.

Lantas ketika demikian, apa konsep yang ditawarkan dalam Islam sehingga kita dapat menuju kebahagiaan hakiki yang dimaksud tadi?

Islam menjelaskan tentang dua konsep untuk menuju kebahagiaan yang hakiki. Yang pertama adalah menghadirkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. Sebagainana dengan Firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim Ayat 7 yang berbunyi: 

وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِ يْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. 14:7)

Sebab orang-orang yang pandai bersyukur adalah orang-orang yang senantiasa memiliki kesadaran tentang nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya.

Sedangkan konsep yang kedua adalah senantiasa menanamkan rasa sabar dalam diri, sebab manusia memiliki kehidupan yang sangat dinamis. Sejatinya ada suka, pun selalu ada duka. Namun, dalam sebuah nilai kehidupan sangatlah ditentukan oleh daya responsif kita terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Di sanalah fungsinya sabar yang harus dihadirkan dalam diri untuk menghadapi dinamika kehidupan yang transendental, ketika apa yang diharapkan ternyata tidak terealisasikan. Sebab sejatinya, ekspektasi tidaklah selalu sejalan dengan realita.


Dalam sebuah Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri, RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

“Siapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allah akan memudahkan kesabaran baginya. Dan tidaklah seseorang dianugerahkan (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pemberian yang lebih baik dan lebih luas (keutamaannya) dari pada (sifat) sabar.” (HR. Al-Bukhâri No. 6105 dan Muslim No. 1053)

Oleh sebab itu ketika seseorang menjumpai sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka yakin dan percaya bahwa Allah SWT sedang menguji seseorang tersebut, agar kemudian ia memiliki jati diri yang kokoh dan tangguh. Dan oleh karena ujian tersebut, keimanan seseorang tidaklah mengalami dekadensi, melainkan keimanan tersebut hanya bertambah kuat.


وَبَشِّرِ الصّٰبِرِ يْنَ

"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
(QS.2:155)


اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِ يْنَ

"Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS.2:153)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Tahun IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar

Oleh: Rahmat Achdar “Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang  Sekar Indurasmi  sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El. Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang  Jazuli Imam  dan kemudian diberi judul  Pejalan Anarki . Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita. Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan. Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita. Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepu...

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....

Di Balik Pelangi

Oleh : Rahmat Achdar Bianglala atau acap kali kita sebut sebagai pelangi adalah sebuah ilusi optik semata yang berupa lengkungan spektrum warna di langit yang nampak akibat dari pembiasan sinar matahari dan titik-titik hujan atau embun. Berdesarkan pendekatan melalui "Ilmu Alam", pelangi terdiri dari 7 warna yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Sedangkan menurut orang terdahulu, konon katanya pelangi merupakan warna selendang 7 bidadari yang terbentang dari surga ke bumi. Selendang tersebut terbentang karena sejumlah bidadari cantik dari kayangan ini akan turun ke bumi untuk melaksanakan salah satu ritual yakni "Mandi di Sungai" . Tapi sebagai mahluk yang berpikir, pernahkah anda menemukan titik bahwasanya di balik keindahan pelangi tersirat sebuah makna untuk kehidupan yang transendental? Sejatinya, pelangi mengajarkan kita untuk selalu pada koridor kearifan dalam menghadapi sebuah niscaya dari Tuhan, yakni perbedaan. Sebab ...