Langsung ke konten utama

Panta Rhei Kai Uden Menei dan Harapan Kehidupan Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Rahmat Achdar
Panta Rhei Kai Uden Menei (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap), adalah sebuah dogma tersuci yang diungkapkan oleh seorang ahli Filsafat Kuno yang dikenal dengan sifat sombong dan tinggi hatinya, ia adalah seorang yang bernama Herakleitos. Pria kelahiran Efesus itu mencoba mendobrak kemapanan dan memberikan sebuah pemikiran baru dalam dunia filsafat. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun di alam semesta ini yang bersifat tetap atau abadi, termasuk alam semesta.

Sosok Herakleitos memang seakan menjadi pembeda, selain dirinya berani untuk tidak masuk ke dalam mazhab apa pun, ia juga seringkali mengkritisi filsuf lain yang lebih dulu terkenal daripada dirinya. Yang menjadi sebuah bukti bahwa Herakleitos adalah sosok yang teguh, ia mempunyai ajaran yang disebut sebagai Logos.

Logos sendiri dipahami sebagai sesuatu yang bersifat material, namun sekaligus melampaui materi yang bersifat biasa. Menurutnya, segala sesuatu yang terus berubah di alam semesta dapat berjalan dengan teratur karena adanya Logos. Melalui ajarannya yang mampu mempersatukan segala sesuatu yang bertentangan, maka tak ayal jika dirinya disebut sebagai Bapak Filsuf Dialektis pertama dalam sejarah perjalanan dunia filsafat.

Berangkat dari ajaran Herakleitos tersebut, ketika kita melihat berbagai peristiwa yang terjadi, semuanya dapat menjadi cerminan yang menyadarkan kita bahwa manusia adalah mahluk yang cerdas. Sebagai contoh, kita pahami betapa beratnya sisi kehidupan yang dijalani para korban Lumpur Lapindo yang mengakibatkan mereka harus kehilangan sumber penghasilan hidup karena sawah, ladang, dan kebunnya habis dibanjiri lumpur. Contoh lain yang bisa kita jumpai dan juga mengangkibatkan permasalahan yang cukup besar ialah, sebuah virus bernama Corona Virus Disease (Virus Corona) yang tengah menggerogoti kehidupan di seluruh penjuru dunia. Dengan seluruh kekuatan dan kekurangan, sampai hari ini kita masih mampu bertahan hidup meskipun dengan berbagai ketimpangan.

Sebuah pepatah mengatakan dan akan mampu menguatkan bahwa “tak ada yang abadi”, begitulah sekiranya kehidupan ini berjalan. Jika kita mundur jauh ke belakang, kita akan menjumpai berbagai revolusi yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Ibarat peperangan, ia akan mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Sebab banyak orang yang akan mengalami ketidakseimbangan dalam hidupnya pasca peperangan tersebut terjadi.

Ketika kita melirik peristiwa lain, misalnya PHK yang dialami oleh para pekerja, pria dan wanita yang menjadi single parent, sampai hari ini mereka harus tetap bertahan dengan kehidupan yang dijalaninya. Maka dari titik itulah, akal sehat dan hati nurani akan mampu bekerja sama dan memegang peranan penting. Keduanya akan membimbing dan akan menunjukkan jalan mana yang harus ditempuh, pun ketika dinamika ini akan sambung menyambung menerpa tanpa henti, toh kita diajarkan agar tetap berdiri tegak bak tiang bendera yang terbuat dari besi.

Panta Rhei, semua akan mengalir. Dogma suci tersebut dianalogikan oleh Herakleitos sebagai aliran air sungai. Ia berkata bahwa kita tidak akan turun ke aliran sungai yang sama, sebab air sungai yang mengalir saat ini tentu berbeda dengan air sungai yang mengalir beberapa menit kemudian. Dari sanalah ia menyebut bahwa perubahan niscaya akan menciptakan impresi-impresi yang membuat hidup akan terasa lebih benar-benar hidup. Meskipun tak dapat dipungkiri, perubahan seringkali mengagetkan. Terlebih jika dia mengubah pola hidup kita secara besar-besaran, hidup akan diibaratkan ditinggal oleh seseorang yang kita cintai pas lagi sayang-sayangnya.

Kai Uden Menei, tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. Maka demikan pula dengan Pandemi Covid-19. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan ini akan beranjak pergi meninggalkan dunia, entah cepat atau lambat. Setelah itu, kita harus mampu membangun kekuatan hidup sendiri. Perubahan pasca pandemi ini akan mengajarkan kita agar meminimalisir ketergantungan hidup terhadap orang lain, baik ketergantungan yang bersifat material maupun imaterial. Sebab hal demikian mampu membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.

Manusia akan mampu mempersiapkan diri menghadapi apa pun dalam kondisi apa pun. Kesadaran ini pun akan mengingatkan kita agar berhati-hati dalam melangkah dan menentukan pilihan, sebab hidup tak pernah diketahui bagaimana perjalanan ke depannya. Mungkin akan berada di jalan lurus hingga ajal menjemput, dan kemungkinan pula sebaliknya akan terjadi. Akan tetapi, dalam Nash-Nya pun Tuhan berjanji tidak akan memberikan ujian kepada seorang hamba melebihi batas kemampuannya.

Maka dari itu, manusia pasti mampu mengatasi pahit getirnya kehidupan dengan akal dan hati nurani yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, sebab manusia adalah mahluk monodualistik yang memiliki potensi yang luar biasa dalam hal mangatasi permasalahan.

Sesekali kita harus menunduk agar kelak kita mampu menanduk dengan baik, terkadang pula kita harus mundur sejenak, agar kemudian mampu melompat lebih jauh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Tahun IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar

Oleh: Rahmat Achdar “Di pelukanmu, aku merasa pulang.” Ucap seorang  Sekar Indurasmi  sembari menjatuhkan air matanya tepat di pelukan hangat dari seorang El. Yah, sebuah novel roman yang ditulis oleh seorang  Jazuli Imam  dan kemudian diberi judul  Pejalan Anarki . Novel dengan tebal kurang lebih sekitar 400 halaman ini mampu memberikan banyak pembelajaran tentang sebuah perjalanan, perlawanan, idealisme dan realisme dalam hidup dan kehidupan kita. Dikisahkan pula seorang tokoh yang bernama El, pemuda yang dikenal dengan kepercayaannya bahwa semesta akan membalas segala perbuatan yang kita lakukan. Percaya akan kekuatan pada diri sendiri, dan percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan. Lanjut, pun El juga sangat percaya bahwa semakin banyak cinta, maka semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Dengan cinta, bahwa cara membahagiakan diri sendiri adalah membahagiakan orang lain di sekitar kita. Menarik kesimpulan dari sosok Sekar dan El tadi bahwa, kepu...

Nasionalisme ataukah Seremonialisme?

Oleh : M. Nur Rahmat Achdar HT Indonesia adalah nama pemberian dari seorang James Richardson Logan (ahli etnolog dari Inggris) yang diadopsi untuk menunjukkan satu kesatuan identitas politik di kepulauan ini dan juga merupakan proses finalisasi nama kepulauan yang dihimpun dari banyaknya pulau dari Sabang sampai Merauke. Berawal dari nama Lemuria, Sweta Dipa, Dwipantara, Nusantara, Hindia Belanda hingga Indonesia yang kita kenal sampai sekarang ini. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak nasionalisme bangsa sebagaimana bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari sejak itu, Putra Sang Fajar Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, dan akan dibuntuti harga mati jika ada bangsa luar yang berani mengganggunya. Nasionalisme merupakan sebuah sikap semangat kebangsaan yang seharusnya dimiliki oleh tiap-tiap bangsa, namun realitas yang kita lihat sampai ini telah terdistorsi dan mengalami banyak pergeseran makna....

Di Balik Pelangi

Oleh : Rahmat Achdar Bianglala atau acap kali kita sebut sebagai pelangi adalah sebuah ilusi optik semata yang berupa lengkungan spektrum warna di langit yang nampak akibat dari pembiasan sinar matahari dan titik-titik hujan atau embun. Berdesarkan pendekatan melalui "Ilmu Alam", pelangi terdiri dari 7 warna yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Sedangkan menurut orang terdahulu, konon katanya pelangi merupakan warna selendang 7 bidadari yang terbentang dari surga ke bumi. Selendang tersebut terbentang karena sejumlah bidadari cantik dari kayangan ini akan turun ke bumi untuk melaksanakan salah satu ritual yakni "Mandi di Sungai" . Tapi sebagai mahluk yang berpikir, pernahkah anda menemukan titik bahwasanya di balik keindahan pelangi tersirat sebuah makna untuk kehidupan yang transendental? Sejatinya, pelangi mengajarkan kita untuk selalu pada koridor kearifan dalam menghadapi sebuah niscaya dari Tuhan, yakni perbedaan. Sebab ...